Pages

Minggu, 12 Agustus 2012

Nilai Positif dan Negatif Kecemasan

Kecemasan adalah rasa takut yang sering kurang jelas penyebabnya.
Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi memiliki nilai negatif apabila intensitasnya sangat kuat,  bahkan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.

Kecemasan dipandang sebagai komponen utama dan memegang peranan penting dalam dinamika kepribadian seorang individu.
Freud (Calvin S. Hall, 1993) membagi kecemasan ke dalam tiga tipe:
1.      Kecemasan realistic, yaitu rasa takut terhadap ancaman atau bahaya-bahaya nyata dari dunia luar atau lingkungannya.
2.    Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting (dorongan Id) akan lepas  kendali dan menyebabkan dia berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum.
(Kecemasan neurotic, bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang akan menimpanya jika suatu insting dilepaskan. Kecemasan neurotik berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas, jika dia melakukan perbuatan impulsive).
3.    Kecemasan etica atau moral, yaitu rasa takut terhadap suara hati (super ego). (Orang-orang yang memiliki super ego yang baik cenderung merasa bersalah atau malu jika mereka berbuat atau berfikir sesuatu yang bertentangan dengan moral. Sama dengan kecemasan neurotic, kecemasan etica juga berkembang berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orang tua maupun orang lain yang mempunyai otoritas jika dia melakukan perbuatan yang melanggar etica atau norma)

Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik, yang akan menjadikan seseorang merasa tak berdaya, dan serba kekanak-kanakan.

Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ia akan menggunakan cara yang tidak realistik yang dikenal dengan istilah mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism), seperti: represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi. Semua bentuk mekanisme pertahanan diri tersebut memiliki ciri-ciri umum yaitu:
    (1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan. 
    (2) mereka bekerja atau berbuat secara tak sadar sehingga tidak tahu apa
          yang sedang terjadi.
Kecemasan dapat dialami siapapun dan di mana pun, termasuk juga oleh para siswa di sekolah. Kecemasan yang dialami siswa di sekolah bisa berbentuk kecemasan realistik, neurotik atau kecemasan moral (etica).
 Karena kecemasan merupakan proses psikis yang sifatnya tidak tampak ke permukaan maka untuk menentukan apakah seseorang siwa mengalami kecemasan atau tidak, diperlukan penelaahan yang seksama, dengan berusaha mengenali gejala-gejalanya beserta faktor-faktor yang melatarbelangi dan mempengaruhinya.
Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa gejala-gejala dan factor faktor kecemasan yang bisa diamati di permukaan hanyalah sebagian kecil saja dari masalah yang sesungguhnya, apabila dicermati lebih dalam mungkin akan ditemukan persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks. Misalnya di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Antara lain:
1.      Target kurikulum yang terlalu tinggi,
2.    Iklim pembelajaran yang tidak kondusif,
3.    Pemberian tugas yang sangat padat, serta
4.    Sistem penilaian ketat dan kurang adil (1,2,3 diatas,kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum).
5.     Sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten. (kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru).
6.    Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman (kecemasan yang bersumber dari otoritas organisasi sekolah ).
7.     Sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas (kecemasan pada siswa yang bersumber dari faktor manajemen sekolah).
Kecemasan merupakan salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif,afektif dan psikomotor seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah,penentuan sikap dan aktualisai diri. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan.
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada usaha usaha tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui:
1.      Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan,yang mendorong timbulnya potensi, minat dan kebutuhan siswa.  Karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan sebaiknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa dapat mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses pembelajarannya.
2.    Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru seharusnya dapat mengembangkan perasaan lucu (sense of humor)pada dirinya maupun para siswanya. Tetapi, lelucon atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.
3.    Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi permainan (game) atau istirahat sejenak atau pendinginan (ice break) tertentu, terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif,atau sedang “bermasalah” (membosankan,jenuh,gerah,tegang,konsentrasi sedikit terganggu). Maka keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok atau pengelolaan kelas, tampak sangat diperlukan.
4.    Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.
5.     Memberikan materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat atau sedang. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.
6.    Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.
7.     Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.
8.    Di hadapan siswa, guru akan dipandang sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru sebaiknya berusaha untuk menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.
9.    Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan prasarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.
10.Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
      Pelayanan bimbingan dan konseling dapat mencegah dan mengatasi
      kecemasan siswa. Maka sangat perlu ketersediaan konselor professional
      di sekolah.

      Melalui usaha di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai bentuk kecemasan dan mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis,sehingga dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.



0 komentar:

Poskan Komentar