Pages

Selasa, 11 September 2012

Arti kata “Islam” adalah tunduk, patuh, menerima



Oleh: Ayatullah Murtadha Muthahhari
Islam adalah sebuah agama yang realistis. Arti kata “Islam” adalah tunduk, patuh, menerima. Ini menunjukkan bahwa syarat pertama menjadi seorang Muslim adalah menerima realitas dan kebenaran. Islam menolak setiap bentuk keras kepala, prasangka, taklid buta, berat sebelah dan egoisme. Islam memandang semua itu bertentangan dengan realisme dan pendekatan realistis terhadap kebenaran.

Dari sudut pandang Islam, orang yang mencari ke­benaran, namun upayanya ini menemui kegagalan, dapat dimaafkan. Menurut Islam, kalau kita secara membuta atau karena keturunan menerima kebenaran, sementara itu kita keras kepala dan angkuh, maka apa yang kita lakukan itu tak ada nilainya.
Seorang Muslim sejati, baik laki-laki maupun perempuan, mesti dengan gairah menerima kebenaran di mana pun kebenaran itu didapatinya. Sejauh menyangkut menuntut ilmu pengetahuan, seorang Muslim tidak memiliki prasangka, atau sikapnya tidak berat sebelah. Upayanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan kebenaran tidak hanya pada masa tertentu dalam hidupnya dan juga tidak hanya di wilayah tertentu. Dia juga tidak menuntut ilmu pengetahuan dari orang tertentu saja. Nabi saw bersabda bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki mau­pun perempuan. Nabi saw juga meminta kaum Muslim agar menerima ilmu pengetahuan dari seorang penyembah berhala sekalipun.
Dalam sabda lain, Nabi saw mendesak kaum Muslim untuk menuntut ilmu pengetahuan sekalipun harus pergi ke negeri Cina.
Menurut riwayat, Nabi saw bersabda: “Tuntutlah ilmu pengetahuan, sejak dari ayunan hingga liang lahat.”
Memahami problem secara parsial dan dangkal, secara membuta mengikuti orang-orang tua, dan menerima tradisi turun-temurun yang tidak logis, karena semua ini bertentangan dengan jiwa menerima kebenaran, maka Islam mengecamnya, dan dianggap menyesatkan.
Allah Adalah Realitas Absolut dan Sumber Kehidupan
Manusia adalah makhluk realistis. Anak yang baru lahir, sejak detik-detik pertama kehidupannya, seraya mencarvcari susu ibunya, mencarinya sebagai realitas. Secara berangsur-angsur tubuh dan jiwa bayi ini berkembahg sedemikian sehingga dia dapat membedakan antara dirinya dan sekitarnya. Kendatipun kontak bayi ini dengan sekitarnya terjadi melalui serangkaian pemikirannya, namun dia tahu bahwa realitas sekitarnya itu beda dengan realitas pemikirannya yang juga digunakannya sebagai perahtara saja.
Karakteristik Integral Alam Semesta
Realitas yang dapat ditangkap oleh manusia melalui inderanya dan yang kita sebut dunia, memiliki sifat-sifat khas integral berikut ini:
1.  Terbatas
Segala yang dapat ditangkap oleh indera, dari partikel yang paling kecil sampai bintang yang paling besar, ruang dan waktunya terbatas. Tidak ada yang dapat eksis di luar ruang dan waktunya yang terbatas itu. Benda-benda tertentu menempati ruang yang lebih besar dan masa eksisnya lebih panjang, sementara sebagian benda lain menempati ruang yang lebih kecil dan masa eksisnya lebih pendek. Namun pada akhirnya benda-benda tersebut terbatas ruang dan waktunya.
2.  Berubah
Segala sesuatu berubah dan tidak tahan lama. Segala yang dapat ditangkap oleh indera di dunia ini, keadaannya tidak berhenti. Kalau tidak berkembang, ya rusak. Benda material yang dapat ditangkap oleh indera, sepanjang masa eksistensinya, selalu mengalami perubahan sebagai bagian dari realitasnya. Kalau tidak memberikan sesuatu, ya menerima sesuatu, atau memberi sekaligus menerima. Dengan kata lain, kalau tidak menerima sesuatu karena realitas benda-benda lain dan menambahkan sesuatu itu pada realitasnya sendiri, ya memberikan sesuatu karena realitasnya atau menerima sekaligus memberi. Bagaimanapun juga, tak ada yang tetap statis. Sifat khas ini juga menjadi sifat khas segala yang ada di dunia ini.
3.  Ditentukan
Sifat khas lain dari benda-benda kasat indera adalah ditentukan. Kita dapati bahwa benda-benda tersebut semuanya ditentukan. Dengan kata lain, eksistensi masing-masing ditentukan oleh dan bergantung pada eksistensi benda lainnya. Tidak ada yang dapat eksis jika benda-benda lainnya tidak eksis. Kalau kita perhatikan dengan saksama realitas benda-benda material kasat indera, ternyata banyak “jika” menyangkut eksistensinya. Tak dapat ditemukan satu benda kasat indera yang bisa eksis tanpa syarat dan tanpa tergantung benda lain. Eksistensi segala sesuatu tergantung pada eksistensi sesuatu yang lain, dan eksistensi sesuatu yang lain juga tergantung pada eksistensi sesuatu yang lainnya lagi, dan seterusnya.
4.  Bergantung
Eksistensi segala sesuatu tergantung pada terpenuhinya banyak syarat. Eksistensi masing-masing syarat ini tergantung pada ter­penuhinya syarat lain. Tak ada sesuatu yang dapat eksis dengan sendirinya, yaitu tak ada syarat untuk eksistensinya. Dengan demikian, bergantung merupakan sifat segala yang ada.
5.  Relatif
Eksistensi dan kualitas segala sesuatu itu relatif. Kalau kita menyebutnya besar, kuat, indah, berusia tua dan bahkan ada, kita mengatakan begitu dalam bandingannya dengan benda-benda lain. Kalau kita mengatakan, misalnya, bahwa matahari sangat besar, yang kita maksud adalah bahwa matahari lebih besar daripada bumi dan planet lain dalam sistem tata surya kita. Kalau tidak, sesungguhnya matahari ini sendiri lebih kecil daripada banyak bintang. Juga, ketika kita mengatakan bahwa kapal atau binatang tertentu hebat, kita membandingkannya dengan manusia atau sesuatu yang lebih lemah daripada manusia. Bahkan eksistensi sesuatu itu komparatif. Bila kita bicara soal eksistensi, kesempurnaan, kearifan, keindahan, atau kekuatan, berarti kita mempertimbangkan tingkat lebih rendah dari kualitas itu. Kita selalu dapat memvisualisasikan tingkatannya yang lebih tinggi juga, dan kemudian tingkatan lebih tinggi yang berikutnya. Setiap kualitas yang dibandingkan dengan tingkatannya yang lebih tinggi, diubah menjadi sebaliknya. Eksistensi menjadi non-eksistensi, sempurna diubah menjadi tidak sempurna. Juga, kearifan, keindahan, keagungan dan kehebatan masing-masing diubah menjadi kebodohan, keburukan dan kehinaan.
Daya berpikir manusia, yang ruang lingkupnya—beda dengan ruang lingkup indera—tidak hanya hal-hal lahiriah, namun juga sampai kepada apa yang ada di balik layar eksistensi, menunjukkan bahwa yang eksis itu bukan saja segala yang kasat indera yang terbatas, berubah, relatif dan tergantung itu.
Panorama eksistensi yang kita lihat tampaknya, pada umumnya, ada dengan sendirinya dan berdikari. Karena itu, tentunya ada satu kebenaran yang abadi, tak bersyarat, mudak, tak terbatas, dan ada selalu di balik panorama eksistensi itu. Segala sesuatu bergantung pada kebenaran ini. Kalau tidak, panorama eksistensi tak mungkin seperti ini. Dengan kata lain, tidak ada yang eksis sama sekali.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah ada sendiri dan berdikari. Al-Qur’an mengingatkan bahwa segala yang ada, yang tergantung dan relatif itu, membutuhkan adanya suatu kebenaran yang ada sendiri untuk menopang eksistensinya. Allah berdikari dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Allah sempurna, karena segala sesuatu itu tidak ada dari dalam dan membutuhkan suatu Kebenaran yang akan menutupi ketidakadaan tersebut dengan eksistensi.
Al-Qur’an menggambarkan segala sesuatu sebagai “tanda” atau “ayat”. Dengan kata lain, pada gilirannya segala sesuatu merupakan ayat dari “wujud tak terbatas lagi abadi serta ilmu, kuasa, dan kehendak-Nya”. Menurut Al-Qur’an, alam semesta laksana sebuah kitab yang disusun oleh satu wujud yang arif, yang setiap baris dan katanya merupakan tanda kearifan penulisnya. Dari sudut pandang Al-Qur’an, kalau orang semakin tahu realitas segala sesuatu, maka dia semakin mengenal kearifan Allah, kuasa dan rahmat-Nya.

0 komentar:

Poskan Komentar