Pages

Rabu, 28 November 2012

Kerangka Karangan


Sebelum kita menuliskan sebuah karangan, sebaiknya kita buat terlebih dahulu kerangka karangan tersebut. Kerangka karangan memudahkan kamu dalam menyusun cerita. Selain itu, urutan hal atau masalah yang akan ditulis sesuai dengan alur (jalan cerita) karangan.

Kita dapat menulis sebuah karangan berdasarkan pengalaman. Misalnya, kamu memiliki pengalaman berlibur ke Baturaden.  Baturaden merupakan salah satu daerah wisata di Kabupaten Banyumas. Di sana, kamu melihat keindahan alam dan Kesenian tradisional Khas Banyumas. Berikut merupakan contoh kerangka karangan yang dibuat berdasarkan pengalaman.

Tema Karangan : Keindahan Alam Baturaden
Rencana Judul : Wisata Alam di Baturaden
Kerangka Karangan : 
  • (Paragraf I) Letak Lokawisata Baturaden
  • (Paragraf II) Asal-usul Nama Baturaden
  • (Paragraf III ) Taman Bitanin 
  • (Paragraf IV) Curug Gede dan Pancuran Pitu
  • (Paragraf V) Pancuran Telu Telaga Sunyi
  • ( Paragraf V) Taman Kaloka Widya Mandala dan Kesenian Tradisional
Dari kerangka karangan tersebut, dapat dikembangkan cerita sebagai berikut

Wisata Alam Baturaden

Pada waktu liburan akhir semester kemarin Ani pergi ke Lokawisata Baturaden bersama keluarganya. Lokawista Baturraden terletak di sebelah selatan di kaki gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 meter, merupakan gunung berapi terbesar serta gunung tertinggi kedua di Jawa. Baturraden terletak pada ketinggian sekitar 640 meter diatas permukaan laut dan berjarak hanya 14 km dari pusat kota Purwokerto yang dihubungkan dengan jalan yang memadai. Untuk mencapai taman wisata Baturraden yang terletak di daerah Banyumas dapat menggunakan transportasi darat yang dapat dilakukan dengan berbagai Armada Angkutan Darat: Kereta Api, Bus Antar Propinsi, Bus Antar Kota yang menghubungkan kota-kota diseluruh Pulau Jawa terutama tujuan Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Semarang.

Asal-usul Nama Baturaden ternyata ada dua versi, yaitu versi Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi. Baturraden berasal dari dua kata yaitu ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Dilihat dari susunan kata-katanya, maka nama Baturraden terdiri dari kata : Batur – Radin, yang artinya tanah datar, Batur – Adi, yang artinya tanah yang indah.


Lokawisata Baturaden sangat sejuk dan indah. Anda dapat melihat pemandangan Kota Purwokerto, Pulau Nusa Kambangan, juga beberapa pantai indah di daerah Cilacap. Baturaden sendiri memiliki banyak objek wisata yang menarik dikunjungi seperti Taman Bitanin yang memiliki beragam tanaman dan bunga langka, di antaranya bunga havana, daun dewa, antarium lipstick, palem paris, dan widoro laut yang tak hanya dipamerkan, juga dijual sebagai souvenir. 

Pancuran Pitu
Dari Taman Bitanin di Lokawisata Baturaden kita dapat melanjutkan perjalanan ke Curug Gede, sebuah air terjun cantik di Desa Ketenger yang terletak 3 km dari pusat Baturaden. Tidak jauh dari situ juga ada sebuah pemandian air panas, Pancuran Pitu yang bersuhu sekira 60 hingga 70 derajat Celsius. Pancuran pitu ini merupakan sebuah pancuran yang airnya berasal dari perut Gunung Slamet. Pancuran tersebut berjumlah tujuh (pitu, jawa).

Ada lagi satu tempat pemandian air panas, Baturaden juga memiliki pemandian yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Pancuran Telu. Baturaden pun memiliki kolam sumber air murni, Telaga Sunyi. Baturaden ternyata turut dibuka untuk lokasi perkemahan. Bagi pengunjung yang ingin bermalam di Baturaden, Anda dapat mendirikan tenda di Wana Wisata, sebuah hutan hijau yang berjarak 2 km dari Baturaden dan sangat pas untuk berkemah bersama keluarga.

Wisata keluarga di Baturaden akan bertambah menyenangkan apabila berkunjung ke Taman Kaloka Widya Mandala, sebuah kebun binatang dan museum yang menyimpan kerangka-kerangka fauna khas Indonesia. Tidak hanya wisata alam, Baturaden juga menyediakan beragam wisata kebudayaan seperti grebeg syura yang diadakan setiap bulan pertama dalam kalendar tahun Islam, pertunjukan musik calung, dan tari tradisional lengger, pertunjukan bernuansa mistis yakni kuda lumping, serta sadranan sebagai upacara mengunjungi situs suci, biasanya kuburan yang juga disebut kenduren oleh masyarakat sekitar. 

0 komentar:

Poskan Komentar