Pages

Selasa, 05 Maret 2013

Ilmu tentang Al Ma'rifah


Perbedaan Ilmu dan Ma'rifah
 Ma'rifah merupakan hasil pengalaman jiwa dalam berpikir dan merasai seluruh ayat kauniah dan ayat kauliah (al Qur’an )yang terbimbing oleh sabda sabda rosul serta teladan teladan rosul yang mempengaruhi kondisi jiwa seseorang hamba yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh aktifitas ragawinya.
 Sedangkan Ilmu adalah hasil berpikir dan merasai sesuatu namun tidak selalu dalam bimbingan ayat kauniah dan ayat kauliah dan tidak juga selalu terbimbing oleh sabda sabda rosul dan teladan teladan beliau dan juga tidak selalu mempengaruhi kondisi jiwa seseorang hamba yang pada akhirnya juga tidak selalu mempengaruhi seluruh aktivitas ragawinya.
Ma'rifah secara etimologis adalah pengetahuan tanpa ada keraguan sedikit  pun,karena terdukung oleh wahyu dan sabda serta teladan yang sempurna (Al Qur’an dan Al Hadist ) Ma'rifah adalah keyakinan yang kuat kokoh tak terbantahkan atau disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persoalan Zat Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya.
Jika ditanya,
"Apa yang dimaksud dengan ma'rifah Zat Allah dan apa pula maksud dari ma'rifah sifat Allah?"
Maka jawabnya cukup dengan keyakinan yang mantap :
 "Ma'rifah Zat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. itu Wujud dalam Keesaan, Tunggal, dengan segala Keagungan yang bersema-yam dalam diri-Nya, dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya. “Adapun ma'rifah sifat, adalah me-ngetahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. Maha-hidup, Maha Mengetahui, Mahaberkuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat dan dengan segala sifat Kemaha-sempurnaan lainnya.Dan hal itu telah diterangkan dalam wahyu AL quran dan Al Hadist dan harus dapat kita rasai sepenuk hati dan sekuat pikir dan dzikir kita dalam melihat dan merasi seluruh ayat ayat kauniah"
Jika ditanya: "Apapah tanda tanda rahasia ma'rifah itu?"
"Yaitu dengan men-sucikan segala petunjuk-Nya  baik petunjuk tentang ZatNya, sifat Nya dan tarbiahNya atau mauidhohNya. Mensucikan artinya yakin percaya tanpa ragu dan tanpa prasangka buruk sedikitpun. Ini ditandai dalam ujud aktifitas hidup yang penuh ketawadu’an,kekusyu’an dan keistiqomahan  fi sabillillah.” Maka orang orang musrik,munafik dan kafir tidak akan pernah ma’rifahtullah, karena mereka selalu dalam keaadaan tidak percaya,ragu ragu dan prasangka buruk terhadap Allah.

0 komentar:

Poskan Komentar